Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah GenerasiX (Gen-X). ... Milenial kadang-kadang disebutsebagai "Echo Boomers" karena adanya 'booming' (peningkatan besar) tingkat kelahiran di tahun 1980-an dan 1990-an.
Dewasa ini, generasi millennials menjadi topik yang cukup hangat dikalangan masyarakat, mulai dari segi pendidikan, teknologi maupun moral dan budaya. ... Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000.
Di era milenial ini banyak sekali perubahan perubahan yang terjadi, terlebih khusnya di bidang teknologi, jika kita tidak pandai pandai menyaring mana yang dianggap mempunyai nilai yang positif Dan mana yang mengandung nilai negatif maka kita pasti akan terjerumus ataupun masuk kedalam jalan yang salah.
Entah mengapa akhir-akhir ini, di berbagai sosial media dan di berbagai situs berita banyak sekali kata yang menyebutkan tentang generasi millenial ini. Banyak orang-orang, warganet atau netizen di dunia maya yang menyebutkan bahwa generasi millenial ini adalah golongan pemuda, golongan barisan pemuda usia 20-30 tahunan, Yang kiranya lahir pada era tahun 80-90 an. Namun, apakah memang benar demikian pengertian mengenai generasi millenial ini ?.
Yap, anggapan para netizen di dunia maya ini sebagian besar memang benar adanya. Generasi millenial, merupakan generasi atau orang-orang yang kiranya lahir diantara tahun 80an sampai dengan awal tahun 90an. Tepatnya mereka generasi millenial ini lahir diantara tahun 1980-1994.
Tentunya, untuk generasi sebelum dan sesudah generasi millenial ini juga memiliki sebutan tersendiri. Untuk generasi sebelum millenial misalnya, sebut saja ada yang namanya generasi X. Dan setelah generasi millenial ini sebut saja ada yang namanya generasi Z, Dan sebagainya.
Perlu diketahui juga, nama lain dari generasi millenial ini adalah generasi Y, generasi me, generasi echo boomers, generasi boomerang dan juga peter pan.
Bagi seorang siswa, peranan guru sangatlah penting untuk memberikan arahan atau pendidikan yang menyinggung dari era milenial. Karena tidak dipungkiri, kita juga sedang berada di era itu, sedikit banyak tentulah guru harus mengarahkan siswa siswanya dan mengajarkan apa saja yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan oleh mereka, karena seorang siswa pastinya belum terlalu mengerti bayak tentang nilai nilai yang dianggap negatif ataupun positif.
Tidak di pungkiri, siswa juga memerlukan media pembelajaran yang bersifat modern, karena di era seperti ini, media tersebutsabgat diperlukan oleh peserta Didik, maka dari itu, pentig sekali peran guru untuk mengarahkan dan mengajarkan agar siswa siswanya dapat memilah yang mana yang bersifat negatif dan yang bersifat positif.
atasari, Prodi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
Arus globalisasi merupakan fenomena menarik yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Budaya global dan gaya hidup (life style) merupakan dampak paling kentara akibat fenomena ini. Globalisasi sendiri diartikan sebagai proses mendunianya seluruh kehidupan sosial, ekonomi, politik hingga budaya antara satu negara dengan negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki ‘batas’ alias borderless. Berita yang masuk terkait permasalahan tiap negara dengan mudahnya tersebar melalui internet, media sosial, maupun aplikasi berbasis internet lainnya dalam satu perangkat yang disebutgadget. Hal tersebut terjadi pada generasi muda Indonesia saat ini disebut sebagai generasi gadget atau yang sering kita kenal sebagai generasi milenial.
Generasi milenial memang unik. Berbeda dengan generasi sebelumnya, yakni generasi X, generasi milenial yang lahir dari tahun 1980 hingga 2000, mendominasi pasar. Menurut hasil riset Goldman Sachs, di Amerika Serikat, angkatan milenial ini berjumlah 92 juta jiwa, jauh di atas jumlah generasi X (yang lahir antara tahun 1965 hingga 1979) yang berjumlah 61 juta. Itulah kenapa, banyak sekali riset yang mengungkap tentang karakter dan gaya hidupgenerasi milenial. Berikut adalah 7 hal yang paling mencolok dari riset Goldmand Sachs tentang generasi millennial.
BACA JUGA
Generasi Milenial Terlihat Malas Bekerja? 8 Hal Ini PenyebabnyaTwitter Jadi Sumber Informasi Tepercaya bagi Generasi MilenialIni Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Generasi Milenial
1. Produk murah
Dibanding generasi sebelumnya, bagi generasi milenial, harga jauh lebih penting ketimbang kualitas. Mereka cenderung tertarik pada produk berharga murah.
2. Rumah
Walaupun terbilang muda, generasi milenial memimpikan bisa membeli rumah suatu hari nanti, tapi mereka tidak berencana melakukannya dalam waktu dekat. Menurut survei Goldman Sachs, 30% dari generasi milenial sudah cukup puas tinggal di rumah orang tua.
3. Sehat
Generasi milenial tertarik dengan gaya hidup sehat, olahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Semakin banyak kaum muda yang memilih hidup sehat dan menjauhi kebiasaan buruk seperti merokok, dan minum minuman beralkohol.
4. Televisi
Lebih dari separuh generasi milenial di Amerika Serikat mengatakan tidak berminat untuk membeli televisi. Mereka lebih senang menikmati tontonan televisi dari gadget seperti laptop, tablet ataupun gadget lain yang terkoneksi internet.
5. Barang fashion olahraga
Jika generasi milenial ingin menghabiskan uang untuk belanja, mereka lebih senang membelanjakan barang mahal untuk barang fashion kebutuhan olahraga, seperti baju ataupun sepatu olahraga.
6. Mobil
Generasi milenial mau menggunakan mobil hanya ketika mereka memerlukannya. Makanya, mereka rela menyewa mobil, ketimbang harus membelinya sendiri. Itulah kenapa mereka menggemari jasa transportasi online seperti Uber dan transportasi online lainnya, sebagai pilihan utama.
7. Media Sosial
Generasi milenial sangat menggantungkan hidupnya pada media sosial, untuk kebutuhan sehari-hari. Dari mulai mencari tempat makan, menyapa teman, mencari kerja, hingga hal-hal seperti produk apa yang ingin dibeli.
4 Zodiak yang Tidak Percaya Astrologi,
Rata – rata di antara kalangan remaja Indonesia telah mengenal dan menggunakan internet dalam keseharian mereka. Namun kebanyakan dari mereka belum mampu untuk memilah antara aktivitas internet yang bersifat posistif dan negatif, serta cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka dalam penggunaannya.
Inilah yang mejadi keluhan masyarakat akhir – akhir ini. Generasi muda bangsa yang seharusnya menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Waktu demi waktu terus berlalu, namun dampak yang ditimbulkan arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Sebagian besar masayarakat khususnya anak muda telah terpengaruh oleh budaya barat yang dijadikan sebagai ‘kiblat’ setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai Bangsa Indonesia. Berkaca dari permasalahan yang terjadi, maka sudah seharusnya dilakukan upaya-upaya yang dapat membangun karakter bangsa khususnya dalam hal budaya di Era Milenial ini.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalu proses pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita.”
Maka, pesan yang didapatkan dalam pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Pertanyaannya sekarang adalah apakah proses pendidikan di Indonesia saat hingga saat ini belum menunjukkan adanya pembangunan karakter bangsa?
Menurut saya, hingga saat ini pendidikan di Indonesia merupakan pendidikan yang masih berorientasi pada penyampaian teori daripada penerapannya dalam kehidupan. Sehingga tidak ada keseimbangan antara IPTEK dengan akhlak atau perilaku generasi muda.
Seiring berjalannya waktu, generasi muda saat ini justru lebih mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang melunturkan perilaku-perilaku kebangsaan mereka padahal ilmu yang diberikan baik di sekolah maupun di kampus tergolong semakin berat dan mulai bersaing dengan ilmu yang berada di luar sana. Harusnya, ada keseimbangan diantara keduanya maka akan diperoleh generasi muda cerdas dan bermartabat yang siap memajukan bangsa.
Taksonomi Bloom dalam bukunya yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives, Handbook 1:Cognitive Domainpada tahun 1956 menggambarkan ada tiga elemen pokok dalam pendidikan yaitu aspek-aspek affective, cognitive, danpsychomotoric.
Aspek kognitif meliputi kemampuan peserta didik dalam menyampaikan kembali materi atau ilmu pengetahuan yang didapatkannya melalui tahapan bagaimana cara memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi hasil pembelajarannya. Aspek afektif dikaitkan dengan bagaimana sikap dan cara peserta didik menilai dalam menerima ilmu pengetahuan. Sementara aspek psikomotor merupakan kompetensi dalam menerapkan ilmu yang diberikan oleh guru. Dalam kenyataannya di Indonesia, teori taksonomi Bloom ini belum menunjukkan keseimbangan antara ketiga aspeknya.
Oleh karena itu, dalam mendidik budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati,otak dan fisik.
Dalam hal ini, pengajar baik guru maupun dosen merupakan fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, serta mengembangkan proses untuk berbagi pengetahuan dengan sekitar sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan pada orang lain dan ligkungan sekitar.
Lebih pentingnya lagi apabila dalam penerapannya juga dilakukan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam bergaul di lingkungan masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Pada dasarnya pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai – nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sebagai warga negara yang religius, nasionalis, dan kreatif sehingga dapat mewujudkan kemajuan dan keunggulan bangsa di masa mendatang.
Bung Karno mengemukakan bahwa karakter bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati Bangsa Indonesia serta kepercayaan diri bangsa Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut dibanggakan.
Berkaca dari pendapat yang telah dikemukaan oleh beliau, maka solusi yang paling tepat dalam membangun karakter bangsa di era millenial saat ini adalah dengan membangun dan menata kembali karakter dan watak bangsa Indonesia sendiri dengan terus melakukan pengembangan diri untuk menerapkan pendidikannya di masyarakat.
Tentunya, juga dapat dilakukan penerapan metode-metode yang dapat menarik perhatian orang lain dan lingkungan untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan karakter bangsa yang religius, nasionalis dan kreatif.
Bahasa maupun kebudayaan suatu daerah bisa dijadikan salah satu sarana yang efektif dalam penyampaian ilmu di masyarakat. Pendidikan ‘luar kelas’ pun juga dapat diterapkan agar peserta didik tidak terpaku pada hafalan materi yang ia dapatkan, namun dengan disajikan beberapa studi kasus atau menganalisis langsung suatu permasalahan dalam masyarakat kemudian diterapkan dalam proses kehidupannya.
Namun, perlu diingat bahwa setiap penerapan yang dilakukan haruslah sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku sehingga terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Disinilah peran dari kaum cendekiawan sangat diperlukan untuk meningkatkan pendidikan dan karakter bangsa yang lebih inovatif kedepannya untuk memajukan bangsa Indonesia. Mari pemuda Bangsa Indonesia, wujudkan generasi milenial ini bukan sebagai generasigadget melainkan sebagai generasi pembangun karakter bangsa yang siap memajukan Indonesia.
saat ini terjadi transisi dari pola pendidikan zaman dulu dan sekarang
"Sistem pendidikan saat ini harus bisa menyesuaikan dengan generasi milenial agar tidak tertinggal,' kata Asep di sela-sela pembukaan Indonesia International Education & Training Expo 2018 di Jakarta
Dikatakannya, generasi zaman now atau biasa disebut milenial, memanfaatkan kemajuan teknologi, untuk berinteraksi dengan sesama.
"Sistem pendidikan juga harus menetapkan sistem yang baru agar tidak semakin tertinggal," ujar Asep.
Sistem pengajaran di kampus juga tidak lagi satu arah, melainkan harus banyak diisi metode diskusi yang mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.
Diluar negeri sudah dilakukan pengajarandi kafetaria. Kelas dengan metodepengajaran multi way akan meningkatkan budaya research dan entrepreneur," kata Asep.
Tentang pemeran, Asep menyambut baik acara ini apalagi respon pengunjung luar biasa.
Baru saja dibuka, event tahunan pendidikan tinggi ini langsung dibanjiri pengunjung.
Direktur Utama WP Citra, HM Sukur Sakka menyatakan, kurang lebih 120 peserta mengikuti pameran, baik perguruan tinggi baik negeri, swasta termasuk akademi TNI.
"Kami selaku penyelenggara menargetkan 30.000 pengunjung akan hadir selama berlangsungnya pameran pada tanggal 22-25 Februari 2018,' katanya.
Ia menambahkan pameran ini turut menggelar berbagai macam perlombaan seperti automotive and robotics engineering, lomba advance tamiya, product design engineering, kontes robot, dan english challenge.
"Tak ketinggalan pula, ada campus performance, try out SBMPTN, presentasi pendidikan, forum teknologi perguruan tinggi, unjuk bakat seni, serta tes penjurusan kuliah,” katanyaDiluar negeri sudah dilakukan pengajarandi kafetaria. Kelas dengan metodepengajaran multi way akan meningkatkan budaya research dan entrepreneur," kata Asep.
Tentang pemeran, Asep menyambut baik acara ini apalagi respon pengunjung luar biasa.
Baru saja dibuka, event tahunan pendidikan tinggi ini langsung dibanjiri pengunjung.
Direktur Utama WP Citra, HM Sukur Sakka menyatakan, kurang lebih 120 peserta mengikuti pameran, baik perguruan tinggi baik negeri, swasta termasuk akademi TNI.
"Kami selaku penyelenggara menargetkan 30.000 pengunjung akan hadir selama berlangsungnya pameran pada tanggal 22-25 Februari 2018,' katanya.
Ia menambahkan pameran ini turut menggelar berbagai macam perlombaan seperti automotive and robotics engineering, lomba advance tamiya, product design engineering, kontes robot, dan english challenge.
"Tak ketinggalan pula, ada campus performance, try out SBMPTN, presentasi pendidikan, forum teknologi perguruan tinggi, unjuk bakat seni, serta tes penjurusan kuliah,” katanya..
Ekonomi Rilis
Ini Salah Satu Kebutuhan Generasi Milenial di Masa Depan
Rabu, 9 Mei 2018 | 16:41 WIB
www.shutterstock.comMilenial,
JAKARTA, KOMPAS.com - Di masa depan, generasi milenial mendominasi angkatan kerja di Indonesia.
Laman rumahmillennials.com dalam informasinya menunjukkan bahwa generasi milenial adalah generasi yang lahir setelah tahun 2000.
Generasi milenial memiliki ciri khas tersendiri yaitu lahir pada saat TV berwarna, ponsel juga internet sudah diperkenalkan. Dampaknya, generasi ini sangat mahir dalam teknologi.
Di Indonesia, dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta generasi milenial atau berusia 17- 37 tahun.
Lantas, menurut data IDC, generasi milenial lebih mengutamakan tempat kerja digital (digital workplace) untuk mendukung produktivitasnya.
Menurut IDC pula, tempat kerja digital dapat mendorong peningkatan produktivitas baik perusahaan maupun tenaga kerja sekitar 10 persen- 20 persen.
Hal ini tecermin dari kecepatan, kelincahan, efisiensi waktu, data akurasi, dan simplifikasi prosedur yang dapat dioptimalkan dalam tempat kerja digital.
Data IDC memprediksikan bahwa lebih dari 50 persen pekerja di Asia Pasifik, termasuk di Indonesia akan diisi oleh kaum milenial, yang sering dikaitkan sebagai digital-native pada kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hal tersebut, IDC melihat ke depannya mobile-first dan cloud-enabled environment akan menjadi penggerak dari lingkungan di masa depan.
Pada dewasa ini banyaknya fenomena-fenomena yang terjadi seperti maraknya budaya global (global culture) dan gaya hidup (lifestyle). Fenomena ini terjadi sebagai dampak dari arus globalisasi yang semakin cepat berkembang. Globalisasi yang sering dimaknai sebagai proses mendunianya sistem sosial, ekonomi, politik, dan budaya melalui teknologi yang semakin canggih sehingga dunia seperti menjadi tanpa batas. Berkembangnya teknologi beriringan pula dengan berkembangnya media internet. Selain munculnya fenomena-fenomena budaya global dan gaya hidup dampak dari era globalisasi yaitu munculnya fenomana generasimillennial.
Generasi millennial merupakan generasi yang lahir diatas tahun 1980-an sampai 1990-an. Fase penting yang terjadi saat generasi millenial tumbuh adalah perkembangan teknologi yang memasuki kehidupan sehari-hari. Generasi millenial banyak menggunakan teknologi khususnya dalam berkomunikasi melalui media internet seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook, twitter, path, instagram dan lain sebagainnya, dengan kata lain generasi millennialadalah generasi yang tumbuh pada erainternet booming. Menurut Shiffman da kanuk (2007:245) ciri ciri dari generasi ini adalah tingkat pendidikan dan pengetahuan yang lebih baik dari generasi sebelumnya serta, terdapat keberagaman dari segi etnik yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Generasi millennial sering dinamaiecho-boomers atau millennium generation. Nama echo boomers hadir karena mereka yang termasuk dalam generasi ini adalah generasi yang lahir pada masa perang dunia II. Sedangkan dinamai millennium generation karena mereka merasakan perkembangan teknologi. Karakteristik yang terbentuk pada generasi millenialadalah kecanduan internet, percaya diri dan harga diri tinggi dan lebih terbuka dan bertoleransi terhadap perubahan (Kilber, et al, 2014). Banyak dari generasimillennial yang menggunakan media internet sebaga aktivitas kesehariannya.
Menurut Severin dan Tankard (2005), sejumlah penelitian tentang dampak dan pemanfaatan internet bagi generasi millennial yaitu, menunjukkan bahwa internet menjadi sumber utama untuk belajar tentang apa yang sedang terjadi di dunia seperti untuk hiburan, relaksasi, berkomunikasi, mencari informasi, berbisnis, untuk melupakan masalah, menghilangkan kesepian, untuk mengisi waktu luang dan melakukan sesuatu dengan teman atau keluarga. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari internet, terutama dalam proses komunikasi dan penggalian informasi bagi seluruh masyarakat pengguna internet terutama bagi generasimillennial. Melalui media internet kita dapat mendapatkan informasi dengan mudah, salah satunya dengan menggunakan google, yahoo atau dengan cara yang lain. Banyak dari generasimillennial menggunakan internet untuk mencari teman, chatting, kirim email dan mencari tugas-tugas kuliah atau tugas sekolah. Serta dikalangan generasimillennial yang lagi marak-maraknya adalah, facebook, twitter dan instagram.
Namun berkembangnya teknologi dan media internet tidak hanya memberikan dampak positif bagi generasi millennial, hal ini dapat juga memberikan dampak negatif bagi penggunannya. Menurut Daradjat (1982), semakin merosotnya moral para pelajar merupakan salah satu akibat dari pesatnya perkembangan teknologi media internet yang tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas budi pekerti pelajar, padahal perkembangan teknologi dan media internet memang sangat dibutuhkan bangsa ini untuk dapat dan terus bersaing di era globalisasi. Tidak sedikit dari pengguna internet yang menyalahgunakan media internet seperti, membuka konten porno dengan leluasa, dengan sesuka hati menjelekan orang lain dimedia social (tindakanbullying), menyebarkan hoax dan ujaran kebencian, melakukan kejahatan seperti penipuan, penyadapan dan lain sebagainya. Serentak dengan perubahan dan berkembangnya media internet yang terjadi dalam masyarakat akan memberikan pula dampak yang sangat jelas dalam kepribadian setiap manusia. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai-nilai yang sudah ada, sehingga terjadi pula pergeseran sistem nilai yang membawa perubahan dalam hubungan interaksi manusia dengan masyarakatnya. Selain itu kemerosotan moral juga banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial-budaya dalam lingkungan masyarakat sekitarnya. Banyak Lingkungan sosial yang buruk adalah bentuk dari kurangnya pranata sosial dalam mengendalikan perubahan sosial yang negatif.
Di era global seperti saat ini, seseorang memerlukan pengendali yang kuat agar ia mampu memilih dan memilah nilai-nilai yang banyak sekali ditawarkan kepadanya (Soedarsono, 1999; Djahiri, 2006). Oleh karena itu, agar seseorang tahan banting, maka bisa dilakukan melalui pendidikan, sebab jalan terbaik dalam membangun seseorang ialah pendidikan.
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan Jhon Dewey (2003: 69) menjelaskan bahwa “Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia”. Dunia Pendidikan mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat penting untuk membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan sosial. Namun dalam hal ini, tidak hanya pendidikan formal ataupun nonformal saja yang dibutuhkan dari generasimillennial, di butuhkan pula pendidikan karakter dalam membangun moral dan budipekerti pada generasi ini.
Karakter merupakan watak, tabiat, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter dari suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dari bangsa itu sendiri. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional yang terdapat pada UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cerdas, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demoktaris serta bertanggung jawab.
Megawangi (2007) menyebutkan bahwa Pendidikan Karakter sebagai solusi dalam menjawab permasalahan negeri ini. Pendidikan karakter tidak hanya mendorong pembentukan perilaku positif anak, tetapi juga meningkatkan kualitas kognitifnya. Pengembangan karakter atau character building membutuhkan partisipasi dan sekaligus merupakan tanggung jawab dari orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sebab dengan menjadi dewasa secara rohani dan jasmani, seseorang menjadi berkepribadian yang bijaksana baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat (Illiyun, 2012)
Para pakar di Balitbang Pusat Kurikulum Kemendikbud berhasil menginvetarisasi 18 karakter yang harus menjadi acuan para pendidikan secara nasional (Satriwan, 2012). Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa bersumber dari nilai-nilai Agama, Pancasila, Budaya dan Tujuan Pendidikan Nasional, yang kemudian diidentifikasi menjadi 18 karakter bangsa yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab (Satriwan, 2012).
Dalam pendidikan karakter Muslich Masnur (2011:75) Lickona (1992) “menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik(components of good character), yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral,moral feeling atau perasaan tentang moral, danmoral action atau perbuatan moral”. Hal ini diperlukan agar generasi millennialmemahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebijakan. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).
Menurut FW Foerster terdapat 4 ciri dasar pendidikan karakter yaitu:
1. Pendidikan karakter nemenakankan setiap tindakan yang berpedoman terhadap nilai normatif. Dimana diharapkan generasi dapat menghormati norma-norma yang ada dan dijadikannya berpedoman dalam bertingkahlaku dilingkungan masyarakat
2. Adanya korehensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu seseorang akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang ambing serta tidak takut terhadap resiko dalam situasi baru.
3. Adanya otonomi, yaitu seseorang menghayati dan mengamalkan atuan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, seseorang mampu mengambil keputusan dengan mandiri tanpa dipengaruhi atau desakan dari orang lain.
4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan dalam mewujudkan apa yang dipandang baik dan kesetiaan merupakan dasar penghormatan atas komisten yang dipilih.
Pendidikan tidak hanya membentuk insan yang cerdas, namun juga berkarakter dan berkepribadian yang unggul dengan harapan agar generasi bangsa kelak dapat tumbuh dan berkembang dengan karakter yang berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama.
Dalam hal ini dapat disimpulkan peningkatan pendidikan karakter dapat dijadikan dasar dan perisai atau pengendali bagi generasi millennial dalam menghadapi perkembangan di era yang serba canggih atau era globalisasi. Sebagai generasi millennialperlu menyadari pula betapa pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk perilaku dan kepribadian dalam berprilaku di media internet dan dikehidupan sehari-hari. Dalam hal ini tidak hanya lingkungan sekolah yang menjadi pusat pembelajaran dari pendidikan karakter namun keluarga, lingkungan sekitar, masyarakat dan pemerintah pula ikut berperan aktif dalam mendukung hal tersebut, sehingga terbentuklah generasi millennial yang berkarakter baik dan unggul yang berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama.
Generasi milenial memang unik. Berbeda dengan generasi sebelumnya, yakni generasi X, generasi milenial yang lahir dari tahun 1980 hingga 2000, mendominasi pasar. Menurut hasil riset Goldman Sachs, di Amerika Serikat, angkatan milenial ini berjumlah 92 juta jiwa, jauh di atas jumlah generasi X (yang lahir antara tahun 1965 hingga 1979) yang berjumlah 61 juta. Itulah kenapa, banyak sekali riset yang mengungkap tentang karakter dan gaya hidupgenerasi milenial. Berikut adalah 7 hal yang paling mencolok dari riset Goldmand Sachs tentang generasi millennial.
Generasi Milenial Terlihat Malas Bekerja? 8 Hal Ini PenyebabnyaTwitter Jadi Sumber Informasi Tepercaya bagi Generasi MilenialIni Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan Generasi Milenial
1. Produk murah
Dibanding generasi sebelumnya, bagi generasi milenial, harga jauh lebih penting ketimbang kualitas. Mereka cenderung tertarik pada produk berharga murah.
2. Rumah
Walaupun terbilang muda, generasi milenial memimpikan bisa membeli rumah suatu hari nanti, tapi mereka tidak berencana melakukannya dalam waktu dekat. Menurut survei Goldman Sachs, 30% dari generasi milenial sudah cukup puas tinggal di rumah orang tua.
3. Sehat
Generasi milenial tertarik dengan gaya hidup sehat, olahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Semakin banyak kaum muda yang memilih hidup sehat dan menjauhi kebiasaan buruk seperti merokok, dan minum minuman beralkohol.
4. Televisi
Lebih dari separuh generasi milenial di Amerika Serikat mengatakan tidak berminat untuk membeli televisi. Mereka lebih senang menikmati tontonan televisi dari gadget seperti laptop, tablet ataupun gadget lain yang terkoneksi internet.
5. Barang fashion olahraga
Jika generasi milenial ingin menghabiskan uang untuk belanja, mereka lebih senang membelanjakan barang mahal untuk barang fashion kebutuhan olahraga, seperti baju ataupun sepatu olahraga.
6. Mobil
Generasi milenial mau menggunakan mobil hanya ketika mereka memerlukannya. Makanya, mereka rela menyewa mobil, ketimbang harus membelinya sendiri. Itulah kenapa mereka menggemari jasa transportasi online seperti Uber dan transportasi online lainnya, sebagai pilihan utama.
7. Media Sosial
Generasi milenial sangat menggantungkan hidupnya pada media sosial, untuk kebutuhan sehari-hari. Dari mulai mencari tempat makan, menyapa teman, mencari kerja, hingga hal-hal seperti produk apa yang ingin dibeli.